Review: Logitech K380

Sekitar awal bulan Juli 2016, saya tertarik untuk mencari keyboard bluetooth untuk menemani gadget saya untuk mobile. Berhubung agak sulit untuk mengetik text yang panjang dengan menggunakan virtual keyboard, jadi saya mulai googling beberapa keyboard bluetooth.

Pilihannya adalah Logitech K380 atau K480. Prinsipnya sama saja dapat pairing 3 gadget sekaligus berbasis Android, Windows, iOS atau OSX secara bergantian (ada 3 buah tombol untuk mengakomodir). Perbedaannya adalah dari sisi ukuran dan harga tentunya.. 😛


K380 lebih kecil mirip dengan ukuran keyboard wireless iMac atau Logitech K240 untuk PC namun lebih tipis dan bentuk tuts nya lingkaran.

Sedangkan K480 ukurannya lebih besar karena ada slot stand untuk menempatkan gadget kita sehingga dapat mengetik dengan mudah. Selain itu perbedaannya ada pada tombol pengalihan untuk ketiga gadget yang sudah dipairing. K480 menggunakan tombol putar sedangkan K380 menggunakan tombol biasa yang letaknya ada di sebelah tombol ESC.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli Logitech K380 dengan pertimbangan ukuran yang lebih kecil (kompak) sehingga bisa dimasukkan ke tas dan tidak berat. 

Setelah mencoba menggunakan di 2 perangkat iOS dan Android, pairing sangat mudah sekali dan cepat. Begitupun saat peralihan dari perangkat satu ke perangkat lain, tinggal menekan tombol pindah langsung kita dapat mengetik di gadget yang dipilih. Tombolnya juga cukup empuk namun biasa ada bunyi kecil pada tolmbol saat kita mengetik namun ya ini bukan satu hal yang aneh atau menggangu.

Logitech ini menggunakan 2 buah baterai AAA yang sudah termasuk dalam paket pembeliannya. Lumayan dan Logitech mengklaim umur baterainya bisa dipakai hingga 2 tahun. Kita lihat saja ya, saya terus terang agak sangsi hahahaha.. Mengingat Logitech K240 saya tahan 3-4 bulan saja, tapi ya mudah2an kali ini benar minimal umurnya 1 tahun buat saya sudah sangat memuaskanlah..

Overall saya cukup puas menggunakannya, termasuk saat menulis review ini saya menggunakan Logitech K380 dan menyenangkan terutama pada saat kita mobile dan perlu banget untuk ngetik yang cukup panjang. Dan berharap bisa nambah value dalam pekerjaan saya. 

 

Advertisements

Demam Pokemon Go


Ini games yang paling happening sejagad, banyak yang nungguin dari beberapa bulan lalu. Sempet muncul dalam versi beta dan mundur dari jadwal perilisan karena server yang katanya down disebabkan dengan banyaknya yang menggunakannya. Ya itulah POKEMON GO..

Tulisan disini adalah murni pendapat pribadi saya, baik sebagai end user maupun orang tua yang memiliki anak dengan umur yang relatif masih perlu bimbingan orang tua. Jujur saya belum pernah mencoba untuk menginstall aplikasi ini baik di perangkat Android maupun iOS saya, karena memang saya kurang minat dengan game dan juga belum secara resmi keluar di Playstore dan AppStore.

Setelah saya membaca ulasan dan juga melihat review YouTubers maupun Vlog beberapa yang sudah menggunakannya, kelihatannya cukup seru permainan POKEMON GO ini karena tidak membosankan dan cukup menantang karena kita harus mencari sebanyak-banyaknya POKEMON.

Selain itu juga kalo dipergunakan dengan benar, games ini bisa dijadikan sebagai media promosi suatu tempat yang biasanya orang jarang mau pergi contohnya museum, taman kota, gedung-gedung bersejarah dan sebagainya dimana orang Indonesia jarang banget mengunjunginya. Belum lagi saya baca di Facebook, ada driver gojek di Bandung yang siap mengantarkan para pelanggannya untuk menangkap pokemon dengan fasilitas helm, masker dan tentu saja POWERBANK. Hahahaha.. Driver ini jeli banget nangkep peluang (salut kang..)

Yang perlu diwaspadai adalah karena games bukan untuk indoor, maka dampak negatif yang bisa ditimbukan (menurut saya pribadi) :

  • Karena asyiknya menangkap POKEMON, kita sering lupa ada dimana. Saking antusiasnya sampe lupa bahwa kita ada di jalan yang tentu saja bisa membahayakan kita sendiri atau orang lain (kecelakaan baik ringan maupun sampe merugikan orang lain)
  • Saya sebagai orang tua kuatir anak-anak yang bermain menangkap POKEMON di tempat yang tidak semestinya mereka datangi contohnya diskotik atau pub. Ngeri kan kalo gitu..
  • Addicted, contohnya saya baca di detik.com di Selandia Baru ada yang sampe keluar dari pekerjaan karena ingin fokus menangkap pokemon. Whatttt??? Ember gak salah baca, serius fokus menangkap pokemon.. Huhuy.. No comment..

Jadi bijaksanalah untuk menggunakan aplikasi atau game yang kita pakai. Jangan sampai membuat kita lupa akan realita kita apalagi kewajiban kita. So be wise guys..

Oh sebelum beres nulis, saya kasih link review salah satu VLOGers yang menurut saya cukup memberikan gambaran mengenai POKEMON GO.. GBU..